Apakah Trio Firmansah Melemah?


Tak tersedia gading yang tak retak.Peribahasa ini mempunyai kandungan makna bahwa tak tersedia suatu pekerjaan pun yang tak tersedia cacatnya. Atau di dalam kata lain boleh dibilang bahwa tak tersedia yang prima di dunia ini.

Peribahasa inilah yang sesuai menggambarkan perjalanan Liverpool terhadap musim 2018/19 pas ini. Dikatakan promo deposit member baru, Di balik tangguhnya lini pertahanan The Reds yang baru kebobolan 15 kali di Premier League, nampak pertanyaan soal kegananasan trio Sadio Mane – Roberto Firmino – Mohamed Salah atau yang sering disebut Trio Firmansah. Salah satu trio paling baik di Eropa pas ini jadi membuktikan kelemahan.

Pada musim 2017/18 ketiganya menyumbang keseluruhan 91 berasal dari 135 gol yang dibuat The Reds di seluruh kompetisi. Bagaimana dengan musim ini? Ketiganya sesungguhnya tetap jadi andalan The Reds di lini depan. Total 44 berasal dari 70 gol Liverpool berasal berasal dari mereka. Namun mampu kita memandang tersedia perbedaan besar di sana. Dengan sisa 16 pertandingan yang dimiliki Liverpool, dengan asumsi mereka melaju sampai final Champions League, tampaknya akan benar-benar susah bagi ketiganya untuk mendekati rekor gol yang mereka bikin musim lalu.

Semuanya tercermin terhadap laga hadapi Manchester United, 24 Februari lalu, di dalam kelanjutan Premier League. Memiliki keuntungan dengan United yang udah menghabiskan proporsi pergantian pemain hanya di dalam 30 menit, Liverpool selama laga hanya mampu membebaskan 1 tembakan pas sasaran. Oke, kemungkinan akan nampak alasan sebab Firmino udah ditarik lebih dulu di pertengahan babak pertama sebab alasan cedera, namun perihal yang mirip berlangsung 4 hari pada mulanya disaat hadapi Bayern Muenchen di dalam kelanjutan babak 16 besar Champions League. Tampil dengan perlindungan penuh suporter yang memadati Anfield, The Reds hanya mampu membebaskan 2 tembakan pas sasaran.

Lalu apakah yang terjadi? Mungkinkah Trio Firmansah udah jadi melemah? Atau kemungkinan sesungguhnya siasat Jurgen Klopp yang jadi kurangi intensitas pressing-nya disaat hadapi tim-tim besar?

Nama pertama adalah Roberto “Bobby” Firmino. Firmino adalah pemain yang lebih dulu menginjakkan kaki di Anfield dibanding ke-2 rekannya. Dirinya didatangkan oleh sang mantan manajer Brendan Rodgers, namun jadi membuktikan kelasnya di bawah kepelatihan Klopp.

Statistiknya cukup luar biasa. Sebanyak 61 gol dibuat berasal dari 180 penampilan. Seperti kita ketahui, Firmino mulanya berposisi sebagai gelandang serang. Cederanya Divock Origi dan Daniel Sturridge pas itu memaksa Klopp untuk menempatkan Firmino di lini depan.

Musim ini Firmino baru berhasil sebabkan 11 gol. Dia jadi penentu kemenangan The Reds atas PSG terhadap pertemuan September lalu. Firmino juga berhasil bikin hattrick di dalam kemenangan sensasional 5-1 atas Arsenal akhir th. lalu. Salah satu yang jadi ciri khasnya apalagi jika bukan no-look goals, yaitu menendang bola dan mencetak gol tanpa memandang gawang mirip sekali. Banyak tim yang jadi korban keganasan no-look goals punya Firmino ini.

Firmino adalah pemain yang penuh kekuatan dan sering menolong pertahanan. Dia tak sungkan untuk turun ke tengah dan mencoba merebut bola berasal dari kaki lawan. Bahkan terhadap musim lantas Firmino sebabkan tekel lebih banyak dibanding Jan Vertonghen, Nicolas Otamendi, Fernandinho atau apalagi kaptennya sendiri, Jordan Henderson.

Musim ini perihal di atas menghilang berasal dari Firmino. Intensitas kerja kerasnya jadi berkurang. Dia lebih banyak menanti di sepertiga akhir lapangan. Padahal musim lantas tak jarang aksi Firmino yang ikut turun ke bawahlah yang memulai serangan balik The Reds.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *